Pater John Djonga: Pembela HAM di Tanah Papua
- account_circle Admin
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Gabriel Goa*
Saya secara pribadi tergerak hati untuk melakukan Annuntiare (berani mengungkap dan menyuarakan KEBENARAN) dan Dennuntiareb (berani membongkar sistem yang buruk hingga ke akar-akarnya dan ciptakan sistem yang baru) untuk kepentingan dan kebaikan banyak orang (bonum communae), berawal dari perjuangan bersama Alm. Romo Mangunwijaya di Kedungombo, Romo John Hanu dalam kasus Colol dan Perampokan Hak Ekosob Masyarakat Adat Dayak, Romo Nobert Betan, Bapa Thom Beanal, Pater Neles dan Pater John Djonga, bersama semua Romo, Suster, Pendeta, Kyai dan Awam Pejuang Kemanusiaan.
Saya semakin berani membela Hak Asasi Manusia (HAM) bersama Bapa Natalius Pigai sejak menjadi Komisioner Komnas HAM dan selalu berjumpa Pater Neles dan Pater John Djonga untuk membahas persoalan pelanggaran HAM di Papua.
Semakin kuat empati dan belarasa terhadap korban pelanggaran HAM voice of the voiceless, ketika teman seangkatan dan pembimbing di Girisonta ditembak mati menjadi martir di bumi Lorosae, juga teman perjuangan buruh dan aktivis dibunuh yakni Marsinah, termasuk Widji Tukul dan basodara lainnya yang hilang hingga saat ini.
Diteguhkan lagi saat wawancara langsung dengan Uskup Desmond Tutu dan Bapa HAM Dunia, Nelson Mandela, serta menekuni referensi perjuangan para pejuang HAM Internasional seperti Mahatma Gandhi, Bunda Theressa dari Calcutta, Nelson Mandela dan Dalai Lama.
Secara pribadi terlibat aktif empati dan belarasa dengan Papua adalah mendukung total perjuangan Pater Neles, Uskup Muninghof, OFM, Thom Beanal, Pater John Djonga dan para Pejuang HAM yang tidak disebutkan, untuk menjaga keselamatan mereka dari Kejahatan Luar Biasa (Extra Ordinary Crime) kaum serakah jahanam yang biasa membinasakan pejuang-pejuang HAM Papua.

Secara pribadi, saya sampaikan kepada Pater John Djonga, Papua butuh Orang yang berani ungkap dan menyuarakan KEBENARAN, Suara Kenabian melalui strategi advokasi Annuntiare dan Dennuntiare yakni membongkar kejahatan perampokan Hak-Hak Ekosob Orang Asli Papua (OAP) oleh Kaum Kuat Kuasa, Kuat Modal dan Senjata, perampokan uang APBN dan APBD atas nama rakyat Papua (Korupsi Berjamaah kongkalikong) dan pembantaian secara keji dan brutal terhadap rakyat sipil, baik OAP maupun non OAP menjadi korban voice of the voiceless.
Kini Tuhan Yesus Sang Guru menggunakan cemeti, melecut Pater dan kita semua untuk berjuang membela dan menyelamatkan Tanah Penginjilan Papua dengan spiritualitas Sang Guru Kenosis, passing over dan profetik, serta advokasi Sang Guru yakni Annuntiare dan Dennuntiare menuju Tanah Papua yang Adil, Damai dan Sejahtera melawan para perampok yang serakah dan penjahat HAM dalam rupa malaikat tetapi berhati busuk Beelzebul; berbulu domba tetapi buas dan ganas seperti Serigala di Papua.
Biarlah legiun Beelzebul dalam wujud manusia serakah dan jahat masuk dalam Pesta Babi benaran seperti 2000 tahun lalu, Sang Guru memasukkan mereka dalam tubuh babi-babi dan semua masuk ke dalam jurang Neraka.
Saatnya Pater dan semua Korban OAP sampaikan futuro de Papua yang Adil (Iustitia), Damai (Pax) dan Sejahtera (Salus) kepada Presiden Prabowo Subianto melalui Menteri HAM Natalius Pigai.
Pendekatan Kasih Pantang Kekerasan menuju Papua yang Adil, Damai dan Sejahtera sangat diperlukan saat ini. Bersama Menteri HAM, Bapak Pigai dan Presiden RI, Bapak Prabowo Subianto, kita wujudkan cita dan misi nyata Sang Guru di Tanah Papua. Ad Maiorem Dei Gloriam.
* Gabriel Goa adalah Pejuang HAM dan Pembela voice of the voiceless dan korban pelanggaran HAM.
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar