Tren Kekerasan di Papua Meningkat Sejak 2025, Puluhan Warga Sipil Jadi Korban
- account_circle Admin
- calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BOGOR, suaratimurindonesia.com– Dinamika keamanan di Papua menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dengan meningkatnya angka kekerasan dan korban jiwa.
Berdasarkan data empiris yang dipaparkan dalam Rakor Kementerian HAM di Bogor 11-14 Juli 2026 dimana eskalasi konflik belum menunjukkan tanda-tanda penurunan yang signifikan.
Situasi ini menjadi dasar mendesak bagi pemerintah untuk segera merumuskan rekomendasi kebijakan yang berbasis data lapangan.
Narasumber rakor, Laus Deo Calvin Rumayom, memaparkan bahwa tren kekerasan di Papua mengalami peningkatan yang cukup tajam sejak tahun 2025.
Sepanjang periode tersebut, jumlah korban meninggal dunia akibat konflik tercatat mencapai 132 orang. Dari total angka kematian tersebut, sebagian besar atau sebanyak 77 korban di antaranya berasal dari masyarakat sipil.

Kondisi memprihatinkan ini terus berlanjut hingga memasuki tahun 2026. Tercatat hingga April 2026, konflik telah menyebabkan 35 orang meninggal dunia, 20 orang mengalami luka-luka, dan 7 orang menjadi korban penyanderaan.
Tingginya angka korban ini menunjukkan bahwa masyarakat sipil masih berada dalam posisi yang sangat rentan di tengah pusaran konflik.
Dari peta sebaran geografis, dinamika kekerasan ini tidak merata di seluruh Papua melainkan terkonsentrasi di beberapa titik.
Pengamat Papua, Dr. Arie Ruhyanto, M.Sc., menyebutkan bahwa Provinsi Papua Tengah dan Provinsi Papua Pegunungan menjadi wilayah terdampak paling parah.
Secara lebih spesifik, Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Puncak diidentifikasi sebagai episentrum utama konflik saat ini.
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar