Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Internasional » Bangsa dan Gereja Yang Terluka

Bangsa dan Gereja Yang Terluka

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
  • visibility 416
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

“Siapa yang menembak mati pilot Egon Irawan dan Co-Pilot Baskoro Adi Anggoro pada 11 Februari 2026 di Boven Digul?”

Wajah militer Indonesia di Tanah Papua Barat digambarkan dengan jelas dan terang oleh alm. Frans Lieshout, OFM tentang pengalamannya sekitar 62 tahun silam tepatnya pada 1 Mei 1963.

“Saya sempat ikut salah satu penerbangan KLM yang terakhir ke Hollandia, dan pada tanggal 1 Mei 1963 datanglah orang Indonesia. Mereka menimbulkan kesan segerombolan perampok. Tentara yang diutus itu merupakan kelolompok yang cukup mengerikan. Seolah-olah di Jakarta mereka begitu saja dipungut dari pinggir jalan. Mungkin benar-benar demikian.

Saat itu saya melihat amukan mereka. Menjarah barang-barang bukan hanya di toko-toko, tetapi juga di rumah-rumah sakit. Macam-macam barang diambil dan dikirim dengan kapal itu ke Jakarta. Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda dibakar…” (Sumber: Pastor Frans Lieshout, OFM, Gembala dan Guru Bagi Papua: Markus Haluk, 2020, hal.593).

Alm. Herman Wayoi mengabadikan pengalamannya sebagai berikut:

“Pemerintah Indonesia hanya berupaya nenguasai daerah ini, kemudian merencanakan pemusnahan Etnis Melanesia dan menggantinya dengan Etnis Melayu dari Indonesia….Dua macam operasi yaitu Operasi Militer dan Operasi Transmigrasi menunjukkan indikasi yang tidak diragukan lagi dari maksud dan tujuan untuk menghilangkan Ras Melanesia di Tanah ini. Rakyat Papua yang terbunuh dalam operasi-operasi militer di daerah-daerah terpencil atau pelosok pedalaman dilakukan tanpa prosedur dan pandang bulu apakah orang dewasa atau anak-anak. Memang Ironis, ketidakberpihakan hukum yang adil menyebabkan nilai orang Papua dimata aparat keamanan Perintah Indonesia tidak lebih dari seekor binatang buruan”. (Sumber: Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan Di Papua Barat: Yoman, 2007, hal.142-143).

A. C. Manulang Pengamat Intelijen mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) pernah mengatakan:

“Bukan tidak mungkin dan jarang terjadi jika berbagai kerusuhan di berbagai daerah terlepas dari aktor intelektual dari Jakarta. Sangat mungkin kerusuhan ini didesain dari Jakarta dengan berbagai tujuan….”. (Sumber: Indopos, 04 November 2012…lihat Buku Otonomi Khusus Papua Telah Gagal: Yoman, 2012, hal. 215).

Semua konflik di Tanah Papua Barat diciptakan dan dirawat untuk kepentingan perampokan dan pencurian Sumber Daya Alam (SDA) dengan menyingkirkan dan memusnahkan Penduduk Orang Asli Papua Barat. Faktanya, penguasa Indonesia tidak tertarik dengan POAP dan POAP dilihat dan dinilai sebagai penghalang dan beban yang perlu ditiadakan dari Tanah leluhur mereka. Tanah Papua Barat harus dikosongkan dari POAP yang berkulit hitam dan berambut keriting dan rambut bergelombang.

Pada 24 Maret 2025, di depan Parlemen Inggris saya pertanyakan beberapa pertanyaan kunci tentang persoalan konflik di Papua Barat.

1. Siapa yang menembak mati Pilot Glen Malcolm Conning warga Negara Selandia Baru pada 5 Agustus 2024 di distrik Alama, Mimika, Papua Barat?

(2) Siapa yang menewaskan Rick Spier dan Edwin Burgon pada tanggal 31 Agustus 2002 di Timika?

(3) Siapa yang menembak Pieper Dietmar Helmut (55) warga negara Jerman di Pantai Base G pada 29 Mei 2012?

(4) Siapa yang menewaskan Graeme Thomas Wall pada 30 Maret 2020 di Kuala Kencana, Timika?

(5) Siapa yang menembak mati Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha
pada 25 April 2021 di Beoga, Puncak, Papua Barat?

(6) Siapa yang menembak mati Michelle Kurisi Doga pada 29 Agustus 2023 di distrik Kimbim/Assologaima, Wamena, Jayawijaya, Papua Barat?

(7) Siapa yang menembak mati Pilot Egon Erawan dan Co-Pilot Baskoro Adi Anggoro pada 11 Februari 2026 di Bandara Perintis Boven Digul Papua Barat?

Siapa pelaku seluruh kejahatan kemanusiaan dan motivasi apa?

Sejauh belum ada investigasi independen yang kredibel dan melibatkan komunitas internasional untuk investigasi , maka semua tuduhan negara dan aparat keamanan TNI dan Kepolisian Republik Indonesia kepada Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat adalah tidak benar dan tidak dapat dipercaya.

Pertanyaan mendasar yang lain saya sampaikan sebagai berikut:

(1) Mengapa pemerintah Indonesia tidak mengijinkan Komisi Tinggi HAM PBB, Wartawan Asing, dan Diplomat Asing berkunjung ke Papua Barat?

(2) Pemerintah Indonesia menutup akses Komisioner Tinggi HAM PBB wartawan dan diplomat asing masuk ke Papua Barat menimbulkan banyak kecurigaan dan pertanyaan.
Indonesia takut apa, bikin apa dan sembunyikan apa di Papua Barat?

Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno menyimpulkan dengan sempurna:

“…Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia…Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” “…kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab sebagai bangsa biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (Sumber:
Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: 2015 hal. 255, 257).

Sedangkan Pastor Frans Lieshout, OFM, mengatakan:

“Orang Papua telah menjadi minoritas di negeri sendiri. Amat sangat menyedihkan. Papua tetaplah LUKA BERNANAH di Indonesia.” (Sumber: Pastor Frans Lieshout,OFM: Guru dan Gembala Bagi Papua, 2020:601).

Tim Lembaga Ilmu Pengerahuan Indonesia (LIPI) Muridan S. Widjojo (alm), Andriana Elisabeth, Amirudin Al-Rahab, Cahyo Pamungkas dan Rosita Dewi dalam buku Papua Road Map: Negociating the Past, Improving the Present and Securing the Future (2009)menemukan sumber-sumber konflik Papua dikategorikan dalam empat isu.

Pertama, masalah marjinalisasi dan efek diskriminatif terhadap orang asli Papua akibat pembangunan ekonomi, konflik, dan migrasi massal ke Papua sejak 1970. Untuk menjawab masalah ini, kebijakan afirmatif recognisi perlu dikembangkan untuk pemberdayaan orang asli Papua.

Isu kedua adalah kegagalan pembangunan terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Untuk itu diperlukan semacam paradigma baru pembangunan yang berfokus pada perbaikan pelayanan publik demi kesejahteraan orang asli Papua di kampung-kampung.

Masalah utama ketiga adalah adanya kontradiksi sejarah dan konstruksi identitas politik antara Papua dan Jakarta. Masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan dialog seperti yang pernah dilakukan untuk Aceh.

Isu keempat adalah pertanggungjawaban atas kekerasan negara di masa lalu terhadap warga negara Indonesia di Papua. Untuk itu, jalan rekonsiliasi di antara pengadilan hak asasi manusia (HAM) dan pengungkapan kebenaran adalah pilihan-pilihan untuk penegakkan hukum dan keadilan bagi Papua, terutama korban, keluarganya, dan warga Indonesia di Papua pada umumnya.

Solusinya ialah presiden Prabowo Subianto menunjuk Special Envoy dan menghentikan kekerasan militer di Tanah Papua Barat.

Sumber:Originalvoice.com

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GEREJA KEMAH INJIL di Tanah Papua Tulis SURAT GEMBALA untuk Sekretaris PBB

    GEREJA KEMAH INJIL di Tanah Papua Tulis SURAT GEMBALA untuk Sekretaris PBB

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Kepada Tuan Antonio Gutterez Sekretaris Perserikatan Bangsa-Bangsa “SELAMATKAN ORANG ASLI PAPUA DARI KEJAHATAN KEMANUSIAAN (GENOCID, ECOCIDA) DAN KERUSAKAN HUTAN ADAT ORANG ASLI PAPUA DARI PROYEK STRATEGIS NASIONAL (PSN) DI MERAUKE DAN 25.000 Ha KARHUTLA DI TANAH PAPUA” PAPUA, suaratimurindonesia.com– Tanah Papua yang dianeksasi negara Kesatuan Republik Indonesia sejak tahun 1969 melalui act of Free Choice […]

  • Presiden Prabowo Salurkan Bantuan Rp 200 Miliar saat Kunjungi Korban Gempa Flores

    Presiden Prabowo Salurkan Bantuan Rp 200 Miliar saat Kunjungi Korban Gempa Flores

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 82
    • 0Komentar

    NAGEKEO, suaratimurindonesia.com– Presiden RI Prabowo Subianto akhirnya turun langsung ke wilayah terdampak gempa berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 lalu. Presiden bersama rombongan tiba di Nagekeo, Flores, NTT pada Rabu (26/8/2026) dan langsung menggelar rapat koordinasi bersama para Menteri, jajaran TNI, Polri, Gubernur NTT, serta Bupati Nagekeo, bertempat di posko […]

  • PADMA Indonesia Desak Polri Jangan Tutup Jejak TPPO Dalam Kasus Chatrine Rohi

    PADMA Indonesia Desak Polri Jangan Tutup Jejak TPPO Dalam Kasus Chatrine Rohi

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 68
    • 0Komentar

    JAKARTA, suaratimurindonesia.com– Lembaga Hukum dan HAM, Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia mendesak Polda Nusa Tenggara Timur bersama Bareskrim Polri mengusut tuntas dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dalam kasus Chatrine Septiani Rohi, pekerja migran Indonesia asal Kota Kupang yang meninggal dunia di Malaysia. Dalam rilis kepada media ini, Senin (31/8/2026) PADMA menilai […]

  • Bantuan Hukum dan Kemuliaan Profesi Advokat

    Bantuan Hukum dan Kemuliaan Profesi Advokat

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 399
    • 0Komentar

    Oleh: Romualdo B. Phiros Kotan, SH.,MH* Di mata publik luas, profesi advokat atau pengacara hari ini kerap dipandang dengan kacamata tunggal yang cenderung reduktif. Persepsi umum acapkali mengidentikkan profesi ini dengan gemerlap kehidupan glamor, ruang-ruang sidang berbiaya tinggi, honorarium fantastis, hingga sorotan kamera media. Istilah advokat dalam benak masyarakat awam terlanjur melekat sebagai figur hukum […]

  • Kementerian Hak Asasi Manusia RI Sebut Papua Selatan Butuhkan Rumah Sakit Standar Internasional

    Kementerian Hak Asasi Manusia RI Sebut Papua Selatan Butuhkan Rumah Sakit Standar Internasional

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 359
    • 0Komentar

    MERAUKE – — Pihak Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia mengatakan Provinsi Papua Selatan sangat membutuhkan rumah sakit berstandar internasional. Penegasan tersebut mencuat saat berlangsung kegiatan penguatan pembangunan kapasitas (capacity building) HAM bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana serta ASN di Biro Hukum Pemerintah Provinsi (Pemprov) […]

  • Febrie Adriansyah Resmi Ditetapkan Tersangka Kasus Batu Bara dan TPPU

    Febrie Adriansyah Resmi Ditetapkan Tersangka Kasus Batu Bara dan TPPU

    • calendar_month Sabtu, 11 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 106
    • 0Komentar

    JAKARTA, suaratimurindonesia.com– Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipidkor) Polri resmi menetapkan eks Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah (FA) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola batu bara. “Kemudian kita juga telah menetapkan saudara FA dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi dalam proses penanganan hukum oleh pegawai negeri atau oknum penyelenggara negara […]

expand_less