Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Uncategorized » Lebih Baik “Berjudi” Daripada Diam dan Mati Diisap

Lebih Baik “Berjudi” Daripada Diam dan Mati Diisap

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
  • visibility 111
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Angelo Wake Kako*

 

Tulisan Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN, tokoh senior kita beberapa waktu lalu, menarik untuk didiskusikan. DI secara jelas menyatakan saat ini kita sedang “berjudi”, untuk mencoba menerapkan Pasal 33 UUD 1945, yang sejak negara ini berdiri belum sempat diterapkan.

DI melihat situasi yang berbeda berkaitan dengan kondisi kebatinan pendiri bangsa disaat merumuskan pasal 33, yakni situasi penjajahan. Lahirnya pasal 33 didominasi pemikiran “kiri”, dan apakah relevan dengan situasi hari ini? Sehingga mencoba mempraktikannya adalah sebuah perjudian yang besar dengan segala risiko.

Bagi saya, dan aktivis pasca reformasi, teriakan menerapkan Pasal 33 UUD 1945, sering sekali menghiasi spanduk2 demonstrasi kami disaat itu, pasal 33 tidak pernah hilang dari diskusi2 kecil sampe akirnya beberapa dari kami ada yang membuat buku. Saya sendiri pernah membuat buku di tahun 2015, dengan Judul: “Jalan Pembebasan Indonesia” yang isinya bagaimana bangsa ini harus kembali ke rel, kembali ke cita cita para pendiri bangsa. Salah satu cita-cita itu adalah bagaimana memakmurkan rakyat dengan memaksimalkan segala sumber daya alam Indonesia.

Kegelisahan kami didasari karena ketimpangan yang begitu besar, antara yang kaya dan miskin. Karena sebagian besar sumber daya dikuasai segelintir orang yang sudah menjelma menjadi “monster” yang menakutkan yang bisa melakukan apa saja, termasuk menentukan presiden sekalipun, kerena tumpukan modal yang didesign dengan praktik demokrasi yang mensyaratkan modal untuk bisa ikut ambil bagian dalam tata kelola pemerintahan.

Praktik itu terjadi melalui pemilu yang high cost, sehingga sebelum masuk gelanggang, orang orang sudah terverifikasi terlebih dahulu atas dasar modal. Bersyukurnya di beberapa daerah, modal sosial masih menjadi fondasi bagi para pemilih, sehingga masih bisa melahirkan sedikit orang yang terpilih dengan modal nekat.

Setelah negara ini berusia 80 Tahun, saya yang kebetulan diberi kepercayaan untuk menjadi anggota parlemen di Senayan (DPD RI), secara jelas mendengar harapan yang pernah kami diskusikan dulu.

Semangat kembali ke pasal 33 UUD 1945, kembali muncul, setelah sekian lama saya dan generasi saya merasa frustasi dan terkesan menyerah pada keadaan, harapan itu kembali muncul dan bukan dari diskusi warung kopi, bukan dari aksi jalanan, tetapi kali ini, muncul dari sebuah Podium Kehormatan, dan keluar dari mulut seorang Kepala Negara, Bapak Prabowo Subianto.

Seketika saya merinding. Bagi saya ini momentum yang ditunggu-tunggu generasi saya. Karena tidak bisa kita menjalankan tujuan bernegara, yakni mensejahterakan rakyat kalau pengelolaan SDA kita diobral seenaknya kepada segelintir orang tanpa kontrol yang kuat dari negara.

Namun, saya sadar bahwa semangat ini tentu mempunyai risiko yang besar. Presiden akan menghadapi tekanan yang besar, karena yang dilawan bukan sekedar kelompok tetapi ini perlawanan ideologi. Ideologi kapitalisme yang sudah merasuk ke sumsum tulang belakang manusia Indonesia tanpa dia sadari hendak dicabut kembali agar diisi dengan ideologi Sosialisme Indonesia, Pancasila.

Tetapi sejenak muncul keyakinan pribadi, kita bisa melaksanakan ini dan saya percaya tanah dan air serta leluhur bangsa ini akan bersama dan merestui niat baik ini. Kita memang sudah merdeka secara fisik, tetapi masih dijajah secara ekonomi. Kita memang kelimpahan sumber daya alam, tetapi masih menjadi budak di tanah sendiri. Kita bangsa yang besar tetapi mau didikte oleh orang lain. Kita bangsa besar tetapi rela dijadikan pasar global produk asing. Mau sampai kapan kita diam diperah?

Pada titik itulah saya sepakat, lebih baik “berjudi” untuk mencoba mempraktikan Pasal 33 secara konsekuen, daripada kita membiarkan pasal 33 yang sejak awal pendirian belum jelas arah dan kemana implementasinya.

* Penulis adalah Senator Dapil Nusa Tenggara Timur, Ketua Presidium PP PMKRI 2016-2018.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ada Kesan Pemerintah Tutup Informasi Soal Banyak Peluang di Migas Masela

    Ada Kesan Pemerintah Tutup Informasi Soal Banyak Peluang di Migas Masela

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 79
    • 0Komentar

    [JAKARTA, SuaraTimurIndonesia.com ] – Polemik peluang kerja bagi putera daerah di Blok Migas Masela terus bergulir. Yayasan Suara Timur Indonesia desak Pemerintah jangan mempolitisir keadaan yang nanti justru merugikan masyarakat. Sekretaris di Yayasan Suara Timur Indonesia (STI), Freni Lutruntuhluy angkat suara terkait beredar rumor tentang peluang kerja bagi putera/i asal Maluku di Migas Masela. Yayasan […]

  • PADMA Indonesia: Flores Bukan Wilayah Darurat Militer! Negara Wajib Hadir Melindungi HAM Warganya!

    PADMA Indonesia: Flores Bukan Wilayah Darurat Militer! Negara Wajib Hadir Melindungi HAM Warganya!

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 204
    • 0Komentar

    JAKARTA, suaratimurindonesia.com-– Lembaga Advokasi hukum dan HAM, Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia mengutuk keras gelombang militerisasi, intimidasi, pematokan sepihak, dan ancaman penggusuran paksa yang mencengkeram warga Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rencana penguasaan lahan pertanian produktif milik warga demi pembangunan fasilitas militer Yonif TP 834/Wakanga Mere […]

  • PMKRI Timika Kumpulkan Rp 24 Juta untuk Korban Bencana Flores, Juita: Terima Kasih Warga Mimika

    PMKRI Timika Kumpulkan Rp 24 Juta untuk Korban Bencana Flores, Juita: Terima Kasih Warga Mimika

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 97
    • 0Komentar

    TIMIKA, suaratimurindonesia.com– Pengurus dan Anggota Perhimpunan Mahasiwa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Santa Theresia Cabang Timika, Papua Tengah, pada Minggu-Senin (16-17/8/2026) menggelar aksi kemanusiaan berupa penggalangan dana untuk membantu warga terdampak gempa di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Aksi penggalangan dana hari pertama dilakukan di lampu merah Budi Utomo, depan Timika Mall dan area Katedral […]

  • Bupati Manggarai Apresiasi Kepedulian JHL Foundation untuk Korban Gempa Flores

    Bupati Manggarai Apresiasi Kepedulian JHL Foundation untuk Korban Gempa Flores

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 47
    • 0Komentar

    MANGGARAI, suaratimurindonesia.com– Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit, menyampaikan terima kasih kepada Yayasan JHL Merah Putih Kasih(JHL Foundation) atas kepedulian dan kebersamaan dalam membantu masyarakat terdampak gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ucapan tersebut disampaikan Bupati Hery setelah tim JHL Foundation selama hampir satu pekan bergerak menyusuri sejumlah desa dan kampung terdampak di Flores, […]

  • Presiden Prabowo Salurkan Bantuan Rp 200 Miliar saat Kunjungi Korban Gempa Flores

    Presiden Prabowo Salurkan Bantuan Rp 200 Miliar saat Kunjungi Korban Gempa Flores

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 82
    • 0Komentar

    NAGEKEO, suaratimurindonesia.com– Presiden RI Prabowo Subianto akhirnya turun langsung ke wilayah terdampak gempa berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 lalu. Presiden bersama rombongan tiba di Nagekeo, Flores, NTT pada Rabu (26/8/2026) dan langsung menggelar rapat koordinasi bersama para Menteri, jajaran TNI, Polri, Gubernur NTT, serta Bupati Nagekeo, bertempat di posko […]

  • PIAR-JarNas NTT Pertanyakan Bukti BP3MI soal Kematian PMI Chaterine Rohi

    PIAR-JarNas NTT Pertanyakan Bukti BP3MI soal Kematian PMI Chaterine Rohi

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • visibility 154
    • 0Komentar

    KUPANG, suaratimurindonesia.com– Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat Nusa Tenggara Timur (PIAR-NTT) melayangkan pengaduan resmi terkait dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), pemalsuan dokumen anak di bawah umur, serta misteri kematian Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kota Kupang, almarhumah Catherine Septiani Rohi. Pengaduan tersebut ditujukan kepada Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Kapolda NTT), Kepala Balai […]

expand_less